KALI DE MAYA, Wujud Desa Makarti Jaya Menuju Kampung Tangguh Iklim

Desa Makarti Jaya di Kabupaten Empat Lawang kini menjadi sorotan sebagai pionir kampung tangguh iklim berkat implementasi inovasi KALI DE MAYA (Kampung Iklim Desa Makarti Jaya), sebuah gerakan kolektif yang menjadikan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Inovasi ini hadir dari kesadaran bahwa dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan degradasi lahan telah memberi tekanan serius terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, terutama para petani yang menggantungkan hidup pada pola musim yang kian tak menentu. Pemerintah desa, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan berbagai komunitas lokal, membentuk Kelompok Kerja Kampung Iklim (Pokja KLIM) untuk merancang aksi nyata yang menyasar pada adaptasi dan mitigasi berbasis komunitas. Aksi tersebut meliputi penghijauan, pemanfaatan pekarangan, pengelolaan sampah rumah tangga, pembuatan lubang biopori, serta edukasi iklim bagi anak sekolah. Salah satu capaian signifikan dari inovasi ini adalah peningkatan tutupan hijau di pekarangan rumah sebanyak 40% hanya dalam waktu enam bulan. Selain itu, laporan lapangan menunjukkan adanya penurunan insiden banjir ringan hingga 60% di dusun yang sebelumnya rawan genangan saat musim hujan. Semua capaian ini tercatat dalam laporan tahunan KALI DE MAYA tahun 2023 yang disusun secara partisipatif oleh tim desa dan difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Empat Lawang.

Inovasi KALI DE MAYA lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengatasi lemahnya kapasitas adaptif masyarakat desa terhadap perubahan iklim, yang selama ini sering ditangani secara reaktif dan tidak terstruktur. Berangkat dari kondisi lingkungan yang semakin terdegradasi, Desa Makarti Jaya menetapkan bahwa perubahan harus dilakukan dari bawah dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat secara inklusif. Pendekatan berbasis komunitas ini menjadikan inovasi KALI DE MAYA sebagai bukan sekadar program, melainkan gerakan sosial yang menyatukan warga dalam upaya perlindungan lingkungan hidup. Keterlibatan aktif tokoh masyarakat, kader PKK, kelompok tani, pemuda, dan pelajar telah menjadi fondasi kuat bagi kelangsungan gerakan ini dalam jangka panjang. Dengan adanya dukungan regulasi seperti Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri LHK No. 84 Tahun 2016 tentang Proklim, inovasi ini memiliki payung hukum yang jelas dalam pelaksanaannya. Rencana aksi yang disusun Pokja KLIM mengacu pada dokumen peta risiko iklim yang telah dipetakan bersama masyarakat dan ahli lingkungan dari pemerintah daerah. Setiap kegiatan dilakukan melalui mekanisme gotong royong yang memperkuat solidaritas sosial antarwarga dalam menghadapi tantangan bersama. Model partisipatif ini menjadikan KALI DE MAYA sebagai salah satu pendekatan kampung iklim yang paling inklusif dan adaptif terhadap dinamika sosial di desa.

Inovasi ini juga menjawab isu strategis daerah, khususnya ketahanan desa di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem dan tak terduga, yang tidak hanya mengancam hasil pertanian namun juga mengganggu siklus kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika krisis iklim dihadapi dengan pendekatan struktural top-down semata, maka efektivitasnya kerap tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya berada di tingkat komunitas. KALI DE MAYA justru membalik pendekatan itu dengan memposisikan desa sebagai subjek, bukan objek perubahan, yang mampu mengidentifikasi masalahnya sendiri, merancang solusinya secara gotong royong, dan mengevaluasinya secara mandiri. Isu kerusakan lingkungan yang sebelumnya dianggap urusan pemerintah kini menjadi urusan kolektif yang ditangani dengan aksi bersama yang terjadwal dan terukur. Sejak program dijalankan, berbagai pelatihan lingkungan telah dilakukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang adaptasi dan mitigasi iklim berbasis lokal. Bahkan, sekolah dasar di desa mulai mengintegrasikan materi kampung iklim dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti tanam pohon, memilah sampah, dan membuat kompos. Dampak lainnya adalah menurunnya penggunaan pupuk kimia karena masyarakat mulai beralih ke pupuk organik hasil produksi mandiri dari sampah dapur rumah tangga. Semua transformasi ini menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup ramah lingkungan dapat dimulai dari skala terkecil: keluarga dan desa.

Kebaruan dari KALI DE MAYA juga tercermin dari cara desa ini memanfaatkan kekuatan kearifan lokal dalam menyusun solusi lingkungan hidup yang praktis, murah, dan mudah direplikasi oleh masyarakat luas. Alih-alih mengandalkan proyek-proyek besar berskala nasional yang seringkali lambat dan mahal, desa ini justru menggunakan pendekatan kontekstual yang sesuai dengan kultur dan sumber daya yang tersedia di lingkungannya. Misalnya, warga memanfaatkan bambu dan drum bekas sebagai bahan utama pembangunan sumur resapan dan pengairan pekarangan, sementara bahan organik dari sisa dapur digunakan untuk membuat pupuk alami yang menyuburkan tanaman pangan lokal. Semua praktik ini disebarluaskan melalui pertemuan rutin warga, forum RT, dan demonstrasi lapangan yang dipandu langsung oleh anggota kelompok kerja iklim yang telah dilatih sebelumnya. Kegiatan ini membuat masyarakat merasa menjadi bagian penting dari perubahan, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan program. Keterlibatan warga bukan sekadar menjadi peserta, tetapi sebagai perencana, pelaksana, dan evaluator, menciptakan budaya gotong royong berbasis ilmu pengetahuan lingkungan. Bahkan beberapa warga mulai mendokumentasikan kegiatan mereka dalam bentuk foto dan video untuk disebarkan melalui media sosial, meningkatkan kesadaran kolektif dan menjangkau komunitas desa lainnya. Karena sifatnya yang terbuka dan kolaboratif, KALI DE MAYA kini mulai dilirik oleh desa-desa tetangga sebagai model inovasi iklim yang mudah ditiru dan disesuaikan.

Tahapan implementasi inovasi ini dimulai dengan proses sosialisasi yang dilakukan secara bertahap oleh pemerintah desa bersama pendamping dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Empat Lawang untuk menjelaskan urgensi dan manfaat program Kampung Iklim kepada seluruh lapisan masyarakat. Sosialisasi ini mencakup pemahaman dasar tentang perubahan iklim, risiko lokal yang dihadapi, serta langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang relevan untuk diterapkan di desa. Setelah itu, dilakukan pemetaan partisipatif wilayah dan sumber daya desa yang digunakan sebagai dasar penyusunan dokumen risiko iklim dan rencana aksi komunitas. Tim teknis desa dibentuk dan diberikan pelatihan mengenai pengelolaan lingkungan, metode penanaman pohon, pembuatan biopori, pengolahan kompos, serta teknik budidaya tanaman tahan iklim. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk hari aksi lingkungan yang melibatkan seluruh warga, termasuk anak-anak dan remaja, yang sekaligus menjadi media edukasi ekologis lintas generasi. Kegiatan ini juga mendokumentasikan semua proses dan capaian dalam sistem pelaporan Kampung Iklim (PROKLIM) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi. Evaluasi dilakukan secara tahunan oleh DLH dan tim desa untuk menilai keberlanjutan, dampak lingkungan, dan penguatan kapasitas kelembagaan desa dalam menjaga komitmen iklim. Semua tahapan ini memastikan bahwa KALI DE MAYA bukanlah program musiman, melainkan proses berkelanjutan yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Tujuan utama dari inovasi KALI DE MAYA adalah membentuk desa yang tangguh terhadap perubahan iklim melalui aksi nyata yang dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan semangat gotong royong dan pemanfaatan sumber daya lokal secara bijak. Tujuan lainnya adalah menumbuhkan kesadaran warga untuk menjadi pelindung lingkungan melalui praktik sehari-hari seperti menanam pohon, memilah sampah, memanfaatkan air hujan, dan menghemat energi. Program ini juga bertujuan menurunkan risiko bencana banjir, kekeringan, serta degradasi lingkungan yang sering mengganggu produktivitas pertanian dan kesehatan warga. Selain itu, desa menargetkan agar setiap keluarga memiliki pekarangan produktif yang berfungsi sebagai sumber pangan sehat sekaligus penyerapan karbon alami. KALI DE MAYA juga dirancang untuk menjadi platform pelibatan generasi muda dalam aksi lingkungan, guna menyiapkan pemimpin masa depan yang peduli terhadap isu keberlanjutan. Dengan pendekatan inklusif, inovasi ini juga mendorong peran aktif perempuan melalui kelompok PKK dalam pelaksanaan dan pemantauan program, memperkuat nilai-nilai keadilan lingkungan dan sosial. Tujuan strategis lain adalah menjadikan Desa Makarti Jaya sebagai desa percontohan Kampung Iklim tingkat kabupaten yang dapat dijadikan model bagi wilayah lain. Semua tujuan ini selaras dengan misi RPJMD Kabupaten Empat Lawang dan target nasional dalam pengendalian emisi serta penguatan ekosistem lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan.

Manfaat dari inovasi KALI DE MAYA sudah mulai dirasakan oleh warga Desa Makarti Jaya dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan yang lebih bersih, udara yang lebih segar, hingga meningkatnya hasil pertanian pekarangan yang digunakan untuk konsumsi dan tambahan pendapatan keluarga. Warga juga mengaku menjadi lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tidak membakar sampah sembarangan, dan mulai menerapkan pengelolaan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan. Anak-anak sekolah yang sebelumnya jarang disentuh isu lingkungan kini aktif dalam kegiatan menanam pohon, lomba poster bertema iklim, dan mendaur ulang sampah plastik menjadi karya seni. Para ibu rumah tangga juga turut dilibatkan dalam pelatihan membuat kompos, tanaman obat keluarga, serta kampanye hemat energi yang dilakukan dari rumah ke rumah. Kelompok tani yang sebelumnya hanya fokus pada hasil panen kini juga aktif dalam diskusi perubahan iklim, pengendalian erosi, dan konservasi air hujan sebagai bagian dari peningkatan produktivitas yang berkelanjutan. Selain manfaat fisik, inovasi ini juga membawa dampak sosial seperti meningkatnya rasa solidaritas dan semangat gotong royong warga desa dalam menyelesaikan persoalan bersama. Pemerintah desa juga memperoleh manfaat berupa meningkatnya partisipasi masyarakat dalam program pembangunan, serta citra positif di mata pemerintah kabupaten dan lembaga eksternal. Seluruh manfaat tersebut menjadikan KALI DE MAYA bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi sebagai gerakan perubahan sosial yang berakar kuat di masyarakat.

Dari sisi dampak inovasi, KALI DE MAYA mencatat berbagai capaian konkret yang menjadi tolok ukur keberhasilan program berbasis komunitas. Salah satunya adalah terbentuknya Kelompok Kerja Kampung Iklim yang terdiri dari 15 orang perwakilan warga dari berbagai dusun yang aktif menyusun rencana aksi dan melaporkan hasil kegiatan secara berkala. Selain itu, tercatat sebanyak 8 jenis aksi adaptasi dan mitigasi telah dilaksanakan, mulai dari penanaman pohon pelindung hingga pembangunan biopori untuk menampung air hujan dan mencegah genangan. Lebih dari 100 kepala keluarga terlibat langsung dalam kegiatan rutin seperti kerja bakti pekarangan, pelatihan daur ulang, dan pengelolaan bank sampah desa. Dalam laporan resmi ke Kementerian LHK melalui sistem PROKLIM, Desa Makarti Jaya telah mengajukan dokumen risiko iklim, peta aksi lingkungan, dan data capaian lapangan yang tervalidasi oleh Dinas Lingkungan Hidup. Dampak positif ini menciptakan peluang besar bagi desa untuk mendapatkan penghargaan Program Kampung Iklim kategori utama dari pemerintah pusat. Tak hanya itu, inovasi ini juga membuka jalur komunikasi dengan mitra pendukung seperti NGO lingkungan, akademisi, dan CSR perusahaan untuk pengembangan lebih lanjut. Capaian-capaian ini merupakan bukti bahwa dengan sumber daya terbatas sekalipun, desa dapat menciptakan perubahan besar asalkan memiliki komitmen, kepemimpinan, dan partisipasi warga yang kuat. Oleh karena itu, KALI DE MAYA telah menempatkan Desa Makarti Jaya sebagai pionir kampung iklim yang menginspirasi banyak pihak.

Selain keberhasilan teknis dan partisipatif, KALI DE MAYA juga memberi dampak strategis terhadap reputasi Desa Makarti Jaya di tingkat regional maupun nasional. Desa yang sebelumnya kurang dikenal kini menjadi destinasi studi banding bagi desa-desa lain di Kabupaten Empat Lawang dan sekitarnya. Pemerintah kecamatan bahkan menjadikan Makarti Jaya sebagai lokasi pelatihan lapangan untuk perangkat desa dalam pelaksanaan Program Kampung Iklim yang adaptif dan berbasis komunitas. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten juga mengusulkan desa ini menjadi nominasi percontohan lingkungan berkelanjutan dalam ajang penghargaan tingkat provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mengelola perubahan iklim tidak hanya membawa manfaat lingkungan dan sosial, tetapi juga meningkatkan posisi tawar desa dalam arena kebijakan pembangunan. Dalam waktu dekat, desa ini direncanakan menjadi lokasi pilot project konservasi air terpadu bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga donor internasional. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang melalui RPJMD berkomitmen untuk mereplikasi pendekatan KALI DE MAYA ke 7 kecamatan lainnya hingga tahun 2026. Semua pencapaian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan program inovasi bukan ditentukan oleh besar kecilnya anggaran, melainkan oleh semangat kolaboratif dan keberanian untuk berubah. KALI DE MAYA pun kini menjadi simbol harapan bagi desa-desa lain untuk bangkit dan beradaptasi menghadapi tantangan zaman.

Sebagai penutup, inovasi KALI DE MAYA adalah jawaban lokal terhadap persoalan global, yakni perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, keterlibatan multi pihak, serta strategi praktis yang mudah diterapkan, program ini berhasil mengubah pola pikir warga dari pasif menjadi aktif, dari individu menjadi kolektif. Inovasi ini juga menciptakan ruang belajar sosial yang memperkuat modal sosial, meningkatkan literasi lingkungan, dan memperkuat kohesi antargenerasi dalam satu kesatuan visi. Keterlibatan yang merata dari anak-anak hingga lansia membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar dengan langkah kecil namun konsisten. Desa Makarti Jaya kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, melainkan menjadi ruang hidup yang lestari, resilien, dan berdaya dalam menghadapi krisis iklim. Melalui KALI DE MAYA, masyarakat belajar bahwa masa depan bumi ada di tangan mereka sendiri, dan bahwa keberlanjutan adalah hasil dari pilihan-pilihan bijak yang diambil hari ini. Pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya patut menjadikan inovasi ini sebagai model dalam mewujudkan desa-desa yang tangguh iklim dan sejahtera. Dengan semangat yang sama, semoga akan lahir lebih banyak lagi desa-desa di Indonesia yang mampu menjadi lilin kecil penerang perubahan dalam menghadapi tantangan besar dunia